Selasa, 02 Oktober 2012

MEMAHAMI GURU

Pada awal manusia diciptakan oleh Tuhan Allah SWT hidup di surga yaitu Adam dan Hawa. Tuhan memberikan pelajaran tentang ketaatan Malaikat, Jin dan syaiton supaya tunduk kepada Adam serta perdebatan Jin dan Syaiton membantah sehingga diberikan hukuman dengan umur yang panjang sampai di akhir zaman dan masuk neraka selama-lamanya lantas memohon supaya diberikan kesempatan untuk menggoda anak cucu adam. Adam diberi ujian jangan mendekati buah kuldi ternyata istri terbujuk rayuan syaiton sehingga manusia, jin dan syaiton diusir dari surga ke planet bumi. Di bumi Adam diajari Tuhan untuk bisa memberi nama-nama dan berhitung serta mengatur yang ada disekitarnya. Tuhan mengajari tentang kematian yang akibat teraniaya atau terbunuh dan bagaimana membunuh serta merawat mayatnya melalui perantara burung berkelai hingga mati lantas menggali tanah dan dikuburlah burung mati tersebut. Dalam diri Adam dan Hawa diberikan tuhan berupa hawa nafsu sehingga bisa berkembang biak. Anak-anak tak akan bisa apa-apa kalau tidak ada orang yang lebih tua untuk bisa membimbing, mengajak, merayu, memohon, mengadili, memberikan solusi, membela, menegakkan kebenaran, menegakkan kesalahan, dan lain sebagainya sehingga kita di bumi ini dalam keadaan panik, maka dibuatlah peraturan supaya tertip, karena bosan tertip terus juga tidak eanak karena yang dapat penghasilan cuman orang baik saja maka orang membuat supaya tidak tertip supaya orang yang di cap tidak baik mendapatkan penghasilan. Nah dari uraian yang singkat ini bisa kita lihat atau kita pahami bahwa kita semua ini telah mengawali mendidik anak-anak kita untuk baik dan tidak baik. Guru mengajari kebajikan eh ternyata pengusaha informasi, promosi, tehnologi, dan lain-lain mengajari tidak baik dengan didukung orang mempunyai pemahaman dan tujuan yang tidak sama. Contoh salah satu yaitu menganggap ciuman laki-laki dan perempuan itu sudah biasa, telanjang sudah biasa karena suku primitif yang harus dilestsrikan oleh budayawan. Budayawan yang selalu membela kebiasaan lokal bukan karena kebenaran semua orang, bahkan tidak menghormati orang lain yang teraniaya oleh keputusannya. Kerisauan itulah yang namanya dosa atau kesalahan yang harus dibenahi bukan malah dilestarikan. Kearifan, sopan santun, menyayangi, mengasihi, menghormati, berfikir dengan penuh kesabaran bukan dengan hawa nafsu sehingga semua yang dipikirkan itu benar. Guru adalah suatu tugas muliya yang ada di pundak kita semua sehingga menjadi tanggungjawab. Guru yaitu kita semua dan apa saja yang ada di alam seisinya. Guru adalah profesi semua orang bukan saya saja. Kalau sudah bisa memahami itu semua bahkan lebih, lantas untuk apa kita saling salah menyalahkan! Negara tak kan maju kalau hanya bisa mencari kesalahannya saja tanpa melihat kebenaran. Lihat lebih besar mana yang baik ataukah yang salah. yang benar itulah yang harus kau angkat lupakan kesalahan. inilah kasih sayang Tuhan. Sampai-sampai di matematika menyatakan "min kali ples samadengan min", kenapa kok tidak ples? itu artinya "ples selalu dikalahkan min". Tidak percaya! tidak ada orang baik yang berkumpul dengan orang yang tidak baik, andaikan mau berkumpul maka harus mengurbankan kebaikannya, kalaulah memang sebaliknya itu adalah nasib yang diberikan oleh Tuhan. Tapi matematika adalah ilmu pasti, kalau tidak, bukan ilmu pasti namanya. Ini semua adalah untuk mengapdi atau ibadah kepada Tuhan Alloh SWT bukan yang lain. Ok?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar