Selasa, 25 Oktober 2016

TEKNOLOGI PENDIDIKAN

Usia anak sedunia yang sekolah lebih banyak daripada yang tidak sekolah. Anak- anak tentu sekolah tidak hanya satu jenis pelajaran saja tapi banyak seperti di TK, SD, SLTP, SLTA, PTS1, PTS2, PTS3, PROF, dan banyak lagi kegiatan-kegiatan yang tidak saya sebutkan disini. yang jelas mereka belajar macam-macam seperti sarana Teknologi. Sarana ini dibuat untuk memudahkan suatu pekerjaan yang banyak dibuat oleh siswa-siswa kita dalam menempuh ujiannya bisa lulus dengan nilai sangat baik (A). Guru bangga mempunyai siswa bisa membuat alat komunikasi dengan menggunakan jaringan yaitu internet dan yang lain-lainya. Guru bangga siswanya mempunyai prestasi yang sangat cemerlang. Guru bangga siswanya bisa jadi presiden, mentri, gubernur, dan apa sajalah yang penting baik-baik.  Namun kena apa akhir-akhir ini guru sibuk dari apa yang diajarkan sama muridnya. Yaitu "Teknologi". ........?
Dulu guru yang mengajar teknologi sehingga semuanya jadi mudah dikerjakan. Sekarang guru harus bangga, jangan merasa risau kalau siswanya dapat nilai sangat baik (A), jangan dicurigai yang negatif. Siswa dulu sangat berbeda dengan siswa sekarang. Dulu tak ada teknologi nilai terbaik siswa do re mi fa (1, 2, 3, 4) bisa jadi guru, bupati, dokter, dan sebagainya. Guru sekarang harus tidak malu mau belajar teknologi dengan mantan siswanya, apalagi merasa tidak nyaman dengan teknologi itu sendiri, sampai membuat peraturan tidak boleh menggunakan teknologi, dan banyak lagi. Secara dewasa saya berpendapat "guru harus bisa menguasai teknologi" kalau masih mau jadi guru. Kalau kagak anda dipermalukan oleh siswamu sendiri. Belajarlah, isilah, tulislah, gunakanlah, tehnologi itu untuk kemudahan siswamu sendiri. Belajar .......

EFEK DUA KEPANGKATAN BERBEDA BERDAMPAK KERESAHAN

Didunia kepangkatan yang sudah jalan selama ribuan tahun yang lalu ada dua, yaitu; 1) Setruktural, dan 2) Fungsional. Sejak ada organisasi KPK muncullah kerisauan di dua kepangkatan ini. Di fungsional Guru yang bersedia menjalankan kurikulum pendidikan baru dan sangat berat maka diberika sertifikasi sebesar gaji pokok, sedangkan struktural tidak diberikan sertivikasi sebesar gaji pokok dikarenakan Fungsi Ijazah, dan lain-lain yang semuanya sudah tau ... minta diperlakukan yang sama dengan pekerjaan yang tidak sama. Yang jadi masalah di dua kepangkatan ini hanya satu yaitu finansial sertifikasi (gaji). Selama ini gaji sudah diatur dengan adil sesuai dengan tingkat kesukarannya. Namun masih banyak yang menganggab kelelahan itu hanya diukur dari segi fisiknya saja, bukan psikisnya. Hingga muncullah sejenis penganiayaan intelektual yang berbuntutkan keributan yang mengakibatkan roda-roda aktifitas mengalami kemacetan, dan semakin banyak memberi kesempatan orang untuk berbuat yang lain-lain. Dengan masalah seperti ini akhirnya saya berpendapat "baik fungsional maupun setruktural" kepengurusan pangkatnya disamakan seperti fungsional guru yaitu; sistem kridet saja, atau sebaliknya yaitu otomatis melihat jumlah tahunnya tanpa ada penilaian. Dengan demikian kita akan hanya berfikir tentang pekerjaan saja, tanpa politik jabatan yang menyebabkan ketidak tulusan bekerja. Bersyukur yang paling penting. ....