Jumat, 08 Februari 2013

PELAJARAN AGAMA ISLAM HENDAKNYA DI UN KAN

Melihat peristiwa tawuran yang di dominasi oleh para pelajar baik Mahasiswa maupun SLTA yang jiwanya masih labil dan serba kekurangan karena belum bekerja yang bisa menghasilkan uang dengan begitu diiming imingi uang oleh para pendendam maka langsung saja dilaksanakan tanpa pandang Agama/Budi pekerti yang luhur, semuanya jadi berantakan. Pendidikan Agama dalam kurikulum sangat sedikit ditambah apalagi gurunya kalau tidak mencerminkan sebagai guru agama yang santun dan berwibawa serta pemerintah tidak konsen dalam membina dan menyaring pengaruh luar mana yang harus diluruskan dan di bina dan jangan sekali-kali membinasakan siswa dengan cara mengeluarkan siswa dalam belajar. Kepala sekolah harus bisa mengkelompok-kelompokkan siswa sehingga siswa tidak terganggu dalam belajarnya. Dan pemerintah harus bisa menekan belajar siswa dengan mengikutkan dalam tim ujian nasional (UN). Jangan hanya gara-gara khilafiah saja UN PAI di gagalkan. Kepedulian pemerintahlah anak bangsa ini bisa menjadi pewaris bangsa yang handal. Jangan hiraukan pengaruh luar yang mempunyai sejarah yang berbeda dengan NRI ini sehingga kita lupa dengan karakter bangsa yang menyatakan "pelajaran di Indonesia terlalu banyak, cukup sedikit saja yang penting sesuai dengan pekerjaan". NRI tidak hanya menaggulangi pengangguran saja tapi secara keseluruan seperti keperluan rohani dan yang lainnya yang tak kala pentingnya. Kami sangat setuju NRI meng UN kan PAI. Sampai moral bangsa kembali disisi ibu pertiwi. Selamt berjuang demi negeri ini.

Rabu, 06 Februari 2013

SAMBUTAN PAK HADI

Bapak / Ibu yang berbahagia tentu akan bertanya-tanya mengapa tidak mendukung yang banyak malah mendukung yang sedikit? Bapak/Ibu yang berbahagia menurut kami dalam belajar siswa adalah tanggungjawab kami sebagai guru. Murit salah adalah salah kami karena siswa kesekolahan itu untuk memperbaiki kesalahan bukan mencari kebodohan. Jika ada salah dari murit maka mohon dimaklumi saja karena masih anak-anak yang masih perlu banyak mendapatkan pengalaman dari Bapak/Ibu untuk bisa diperbaiki terus diperbaiki. Bapak/ibu mempunyai banyak pengalaman tentang bagaimana menganalisa  yang salah dan mana yang benar, maka dari itulah kami mengambil kembali masuk belajar bersama kami. Kesalahan tetap kesalahan, sekali dua kali minta ampun maka kesalahn sebesar apapun akan terampuni juga. Maka dari itu kita tidak bisa menjebloskan kesalahan itu tanpa ada pertimbangan-pertimbangan. Kalaulah ada batasnya maka tidak hanya sekali salah langsung difonis bersalah yang besar. Tergantung bobotnya, ringan, sedang, berat, sangat berat. Kalau ada kasus ringan malah diberatkan maka itu adalah kesalahan kami. Oleh sebab itulah siswa yang Bapak/Ibu keluarkan maka kami tarik kembali. Ingat "Guru adalah orang pintar, murid adalah anak yang bodoh, tugas guru adalah memintarkan murid supaya pintar, bukan malah guru membodoh-bodohkan murid yang bodoh malah bertambah bodoh, artinya guru gagal dalam membina murid, kenapa begitu, karena guru itu tidak pintar alias .....". Itulah resiko menjadi guru harus sabar dalam membawa misinya beserta tugas pokok dan fungsinya. Ketidak sabaran guru dalam membimbing siswa itulah letak ketidak pinteran seorang guru. Jangan salahkan kalau murid semakin brutal. Guru adalah figor yang dijadikan contoh bagi murid-murid dan yang lainnya. Guru adalah tukang angon murid-murid yang selalu menjaga kalau ada serangan dari luar maupun dari dalam. Guru hendaknya jangan berbuat salah walaupun sedikit. Jika ada maka cepat-cepatlah kembali dan insaf. Itulah guru yang baik dan didambakan semua orang. Guru jangan egois hanya mau menang sendiri, koreksi dirilah sampai siswa membutuhkan dan merindukan kehadiranmu untuk memberikan ilmu pengetahuan dan pengalaman. Tegas bukan berarti keras, tapi bisa dengan lemah lembut yaitu menyatukan fungsi lisan, fungsi perbuatan, dan fungsi hati. Ketiga itu jangan dipisah. Coba semoga berhasil. Sekian, kurang lebihnya saya mohon maaf yang sebesar-besarnya. Billahifisabilil hak fastabikul khoirot Assalamu'alaikum Warohmatullohi wabarokatuh.

Minggu, 03 Februari 2013

GURU ADALAH TUKANG ANGON

Dalam kehidupan kita sehari-hari banyak pengalaman di lingkungan kita yang perlu kita renungkan untuk bahan kebijaksanaan dalam menentukan strategi dalam proses belajar mengajar kita sebagai guru ataupun sebagai ustad. Ada komus mengartikan bahwa ustad itu adalah tukang angon, atau guru yang tugasnya sebagai pengembala, yaitu menjaga, merawat, melindungi, memberi apa saja yang dia perlukan supaya dia bisa bertahan hidup sampai di masa depan dengan cemerlan tentunya sesuai dengan jenjang dan tujuannya. Angon adalah suatu kegiatan merawat sesuatu yang jadi tanggung jawab atau kepemilikan kita supaya apa yang jadi tanggungjawab atau milik kita dapat jadi lebih baik lagi dari yang kemaren dengan cara memberi makan baik jasmani maupun rohani, dan dikontrol akibat dari makanan itu apakan semakin jadi bringas atau malah menjadi membaik ahlak dan moralnya, jika semakin liar tabiatnya maka harus dicari, dikejar, jangan sampai keluar dari tanggungjawab kita bersama, beri makanan dan vitamin yang sesuai pengembala harus mau mengalah demi sukses, jangan mencari menangnya sendiri sehingga yang kita gembala semakin liar dan tak terkendalikan lagi.