Bapak / Ibu yang berbahagia tentu akan bertanya-tanya mengapa tidak mendukung yang banyak malah mendukung yang sedikit? Bapak/Ibu yang berbahagia menurut kami dalam belajar siswa adalah tanggungjawab kami sebagai guru. Murit salah adalah salah kami karena siswa kesekolahan itu untuk memperbaiki kesalahan bukan mencari kebodohan. Jika ada salah dari murit maka mohon dimaklumi saja karena masih anak-anak yang masih perlu banyak mendapatkan pengalaman dari Bapak/Ibu untuk bisa diperbaiki terus diperbaiki. Bapak/ibu mempunyai banyak pengalaman tentang bagaimana menganalisa yang salah dan mana yang benar, maka dari itulah kami mengambil kembali masuk belajar bersama kami. Kesalahan tetap kesalahan, sekali dua kali minta ampun maka kesalahn sebesar apapun akan terampuni juga. Maka dari itu kita tidak bisa menjebloskan kesalahan itu tanpa ada pertimbangan-pertimbangan. Kalaulah ada batasnya maka tidak hanya sekali salah langsung difonis bersalah yang besar. Tergantung bobotnya, ringan, sedang, berat, sangat berat. Kalau ada kasus ringan malah diberatkan maka itu adalah kesalahan kami. Oleh sebab itulah siswa yang Bapak/Ibu keluarkan maka kami tarik kembali. Ingat "Guru adalah orang pintar, murid adalah anak yang bodoh, tugas guru adalah memintarkan murid supaya pintar, bukan malah guru membodoh-bodohkan murid yang bodoh malah bertambah bodoh, artinya guru gagal dalam membina murid, kenapa begitu, karena guru itu tidak pintar alias .....". Itulah resiko menjadi guru harus sabar dalam membawa misinya beserta tugas pokok dan fungsinya. Ketidak sabaran guru dalam membimbing siswa itulah letak ketidak pinteran seorang guru. Jangan salahkan kalau murid semakin brutal. Guru adalah figor yang dijadikan contoh bagi murid-murid dan yang lainnya. Guru adalah tukang angon murid-murid yang selalu menjaga kalau ada serangan dari luar maupun dari dalam. Guru hendaknya jangan berbuat salah walaupun sedikit. Jika ada maka cepat-cepatlah kembali dan insaf. Itulah guru yang baik dan didambakan semua orang. Guru jangan egois hanya mau menang sendiri, koreksi dirilah sampai siswa membutuhkan dan merindukan kehadiranmu untuk memberikan ilmu pengetahuan dan pengalaman. Tegas bukan berarti keras, tapi bisa dengan lemah lembut yaitu menyatukan fungsi lisan, fungsi perbuatan, dan fungsi hati. Ketiga itu jangan dipisah. Coba semoga berhasil. Sekian, kurang lebihnya saya mohon maaf yang sebesar-besarnya. Billahifisabilil hak fastabikul khoirot Assalamu'alaikum Warohmatullohi wabarokatuh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar